Jumat, 12 November 2010

perilaku konsumen 2

Pengembangan Konsep Manajemen Mutu Terpadu Bagi Badan

Usaha Milik Negara (BUMN) Jasa Keuangan Cabang

Bandarlampung

1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam era perdagangan bebas masalah daya saing merupakan isu kunci dan

sekaligus sebagai tantangan yang tidak ringan. Badan Usaha Milik Negara

(BUMN) sebagai suatu badan usaha yang bergerak hampir di seluruh aspek

ekonomi juga tak terkecuali menghadapi tantangan ketatnya persaingan global,

perkembangan teknologi yang cepat dan kondisi dinamis lainnya yang pada

akhirnya menuperusahaan kelas dunia, sehingga BUMN perlu melakukan reorientasi terhadap

struktur dan strategi usahanya untuk mencapai sasaran menjadi Badan Usaha

berkarakteristik perusahaan kelas dunia.

Untuk menerapkan kebijakan-kebijakan yang telah digariskan dalam Master

Plan BUMN tersebut harus didukung oleh suatu sistim Manajemen yang

handal. Manajemen Badan Usaha harus melakukan perubahan (transformasi)

dari paradigma manajemen tradisional menuju paradigma Total Quality

Management (TQM) atau Manajemen Mutu Terpadu (MMT). Bagi BUMN, MMT

telah menjadi suatu program yang harus dilaksanakan karena sesuai dengan

amanat Menneg BUMN No. S-910/M-MBU/2003 tanggal 18 Februari 2003.

MMT adalah suatu pendekatan berorientasi pelanggan yang memperkenalkan

perubahan manajemen yang sistematik dan perbaikan terus menerus terhadap

proses, produk dan pelayanan suatu organisasi. Manfaat bagi badan usaha

dengan diterapkannya MMT adalah perbaikan pelayanan, pengurangan biaya

dan kepuasan pelanggan. Perbaikan progresif dalam sistem manajemen dan

kualitas pelayanan menghasilkan peningkatan kepuasan pelanggan. Sebagai

tambahan, manfaat lain yang bisa dilihat adalah peningkatan keahlian,

semangat dan rasa percaya diri karyawan, peningkatan akuntabilitas dan

transparansi serta peningkatan produktifitas dan efisiensi pelayanan pelanggan.

Namun demikian, di sisi lain sesungguhnya masih banyak para pelaku bisnis

masih mengahadapi kesulitan dalam memahami kekuatan dan manfaat MMT

dalam memenuhi kualitas dan kinerja usaha yang direncanakan. Penyebabnya

adalah adalah sebagai suatu bidang ilmu belum ada suatu definisi standar atau

tunggal dan menyeluruh tentang program-program MMT. MMT hanya

merujuk pada sebuah pendekatan, sebuah sistem, sebuah alat, sebuah teknik

dan atau atau filosofi yang ditujukan untuk mencapai target kualitas tertentuntut BUMN untuk menjadi Badan Usaha berkarakteristik

1.2 Rumusan Masalah

Dengan demikian maka dapat dirumuskan permasalahan penelitian ini adalah :

“Elemen-elemen MMT mana sajakah yang dipersepsikan penting dalam

Pengembangan Konsep MMT bagi BUMN Jasa Keuangan Cabang

Bandarlampung ?”

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan Konsep MMT bagi

BUMN Jasa Keuangan Cabang Bandarlampung.

1.4.1. Penelitian Terdahulu

Penelitian tentang MMT telah banyak dilakukan untuk menghasilkan suatu

konsep untuk merumuskan komponen-komponen yang penting dalam MMT.

Sebelumnya terdapat beberapa penelitian terdahulu yang mencoba untuk

mengumpulkan dan mensintesa berbagai macam elemen MMT. Diantaranya

seperti yang dikutip dari V. Talavera (2004, 357) adalah penelitian Saraph (1989);

Powell (1995); Ahire (1996); Flynn (1996) dan Black dan Porter (1996). Masingmasing

penelitian menghasilkan suatu konsep MMT yang memiliki elemenelemen

yang tidak sama, mengingat penelitian yang dilakukan memiliki

perbedaan dalam hal jenis industri, sampling frame dan uji kevalidan maupun

kereliabelan.

Penelitian V. Talavera (2004) dilakukan terhadap 347 orang manajer yang

berasal dari 63 perusahaan responden yang meliputi industri elektronik,

pengolahan makanan, otomotive, farmasi, semen dan lain-lain. Hasil analisis

pada survey tahap pertama menunjukkan semula terdapat 12 elemen (72 item

program MMT) yang dipersepsikan penting dalam system manajemen mutu.

Namun sesudah dilakukan uji kevalidan dengan Analisis Faktor ternyata hanya

terdapat 7 elemen ( terdiri dari 35 item pernyataan strategi ) yang dipersepsikan

penting oleh responden, yaitu (1) Getting feedback in designing QM Strategies (2)

Customer Focus (3) Employement of Kaizen and 5S (4) Quality Monitoring and

Control (5) QM Technique Orientation (6) Employee Involvement dan (7) Incentive

and Recognition System.

1.4.2 Landasan Teori

1.4.2.1 Mengapa Mutu itu Penting

Mutu sangat penting. Dimulai pada tahun 1970an, perusahaan manufacture di

Jepang dengan bantuan konsultan Amerika, yang bernama W. Edward

Demming mulai menggunakan mutu sebagai daya saing perusahaan. Mutu

menjadi salah satu faktor selain harga yang menentukan tingkat permintaan

konsumen. Perusahaan yang mampu memenuhi bahkan melebihi harapan

pelanggannya akan menjadi perusahaan yang berhasil.

Pada dasarnya mutu dapat mempengaruhi perusahaan dalam empat cara,

yaitu : (1) Biaya dan Pangsa Pasar (2) Reputasi Perusahaan (3)

Pertanggungjawaban produk dan (4) Implikasi internasional. Mutu yang baik

dapat mengarah pada peningkatan pangsa pasar, produktivitas dan

penghematan biaya. Perbaikan mutu juga berarti penurunan kerusakan produk

1.4.2.2 Konsep Manajemen Mutu Terpadu

a. Definisi Manajemen Mutu Terpadu

Manajemen Mutu Terpadu mengambarkan penekanan mutu yang memacu

seluruh organisasi, mulai dari pemasok sampai konsumen. Definisi MMT juga

bermacam-macam. Definisi yang berbeda-beda akan menurunkan perbedaan

pula dalam unsur atau prinsip pokok dalam MMT.

Pengertian mutu yang diadopsi oleh American Society for Quality Control : bahwa

Mutu adalah totalitas bentuk dan karakteristik barang atau jasa yang menunjukkan

kemampuan untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan yang tampak jelas maupun yang

tersembunyi (Render dan Haizer, 2001 : 92). Meskipun demikian pendapat lain

mengatakan bahwa definisi mutu menyangkut berbagai kategori. Beberapa dari definisi

tersebut berorientasi pada pengguna dan berorientasi pada produk. Krajewski (1996, 14)

menyatakan bahwa pelanggan mendefinisikan mutu dengan berbagai macam cara, yaitu

(1) Conformance to Specifications atau kesesuain dengan spesifikasi (2) Value atau

nilai/harga (3) Fitness of Use atau modelnya, keawetannya, pelayanannya (4) Support

atau dukungan layanan (5) Psychological Impressions atau image, keindahan,

kebersihan. Menurut Goetsch dan Davis (1997:3) Mutu adalah keadaan dinamik yang

diasosiasikan dengan produk, jasa, orang, proses, lingkungan yang mencapai atau

melebihi harapan.

Definisi MMT menurut Ishikawa (Tjiptono dan Diana, 2000 :4), MMT diartikan

sebagai perpaduan semua fungsi dari perusahaan ke dalam falsafah holistik

yang dibangun berdasarkan konsep kualitas, teamwork, produktivitas dan

kepuasan pelanggan. Santosa (Tjiptono dan Diana, 2000 :4) menyatakan bahwa

MMT adalah: MMT merupakan sistim yang mengangkat mutu sebagai strategi

usaha dan berorientasi kepada kepuasan pelanggan dan melibatkan seluruh

anggota organisasi. Menurut Goetsch, dan Davis (1997:3) Manajemen Mutu

Terpadu adalah :

Suatu pendekatan untuk menjalankan bisnis yang berusaha untuk

memaksimalkan persaingan sebuah organisasi melalui perbaikan yang terusmenerus

atas mutu produk, jasa, orang, proses, dan lingkungannya.

Hingga saat ini belum ada definisi mutu yang diterima secara universal, namun

dari beberapa definisi mutu terdapat beberapa kesamaan, yaitu dalam elemenelemen

sebagai berikut :

1. Mutu meliputi usaha memenuhi atau melebihi harapan pelanggan

2. Mutu mencakup produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan

3. Mutu merupakan suatu kondisi yang selalu berubah.

b. Prinsip dan Unsur Pokok dalam Manajemen Mutu Terpadu

Prinsip-prinsip dan unsur pokok dalam MMT menurut Krajewski (1996, 140-141)

adalah MMT menekankan tiga prinsip, yaitu customer satisfaction, employee

involvement dan continous improvement.

Variabel-varibel MMT menurut Goetsch, dan Davis (1997:3) adalah : MMT

didasarkan pada strategi, focus kepada pelanggan, obsesi terhadap mutu,

pendekatan ilmiah, komitmen jangka panjang, kerja kelompok, peningkatan

terus-menerus, kebebasan melalui kontrol, kesatuan tujuan, dan Keterlibatan

dan pemberian wewenang kepada karyawan.

Render dan Heizer (2001, 98) mengembangkan lima konsep MMT yang efektif,

yaitu (1) Perbaikan yang terus menerus (2) Pemberdayaan karyawan (3)

Perbandingan kinerja (Patok duga/Benchmark) (4) Penyediaan kebutuhan yang

tepat waktu (Just In Time) dan (5) Pengetahuan mengenai peralatan MMT,

seperti Metode Taguchi, Diagram Pareto, Diagram Sebab Akibat dan

pengendalian Proses secara statistik.

Pendapat yang lain mengenai MMT dikemukakan oleh Tenner dan Detoro yang dikutip

oleh Hamidah (2003, 276) yang menyatakan bahwa MMT dapat diuraikan menjadi tiga

subsistem yaitu (1) Fokus pada pelanggan (customer focus) (2) Perbaikan proses

berkesinambungan (continous process improvement) dan (3). Keterlibatan terpadu (total

involvement) dimana ketiga sub sistem tersebut saling berkaitan.

V. Talavera (2004, 358-360) juga berhasil merumuskan konsep MMT hasil telaah

pustaka yang terdiri dari 12 (dua belas) elemen MMT, yaitu : (1) Komitmen

Manajemen Puncak (Top Management Commitment ) (2) Perencanaan Mutu

Strategis (Strategic Quality Planning) (3) Orientasi Pelanggan (Customer Focus) (4)

Manajemen Mutu Pemasok (Supplier Quality Management) (5) Manajemen

Sumber Daya Manusia (Human Resources Management) (6) Pendidikan dan

Pelatihan Karyawan (Employee Education and Trainging) (7) Perancangan Produk

/ Jasa ( Product/Service Design) (8) Ketertiban Organisasi Tempat Kerja

(Workplace Organization Orderliness) (9) Manajemen dan Pengawasan Proses

(Process Management Control) (10) Manajemen Informasi Mutu (Quality

Information Management) (11) Patok Duga (Benchmarking) Perbaikan

Berkelanjutan (Continous Improvement).

3. SIMPULAN DAN SARAN

3.1 Simpulan

Berdasarkan analisis dan pembahasan, maka disimpulkan bahwa konsep MMT

bagi BUMN Jasa Keuangan Cabang Bandarlampung adalah : (1) Faktor

Pendidikan dan Dukungan Perangkat Analisis (2) Faktor Manajemen Fasilitas

(3) Faktor Komitemen Manajemen dan Kepemimpinan Kualitas (4) Faktor Fokus

pada Pelanggan (5) Faktor Pengukuran dan (6) Faktor Patok Duga

3.2 Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan simpulan, maka bagi BUMN Jasa Keuangan

Cabang Bandarlampung yang akan mengadopsi konsep MMT sebaiknya

memprioritaskan keenam factor dari hasil analisis factor tersebut dalam

program MMTnya.

DAFTAR PUSTAKA

Goetssch, David L and Davis, Stanley B. 2002. Manajemen Mutu Total. Edisi ke

dua. Penerbit PT Prenhalindo. Jakarta

Krajewski, Lee J. and Larry P. Ritzman. 1996. Operations Management : Strategy

and Analysis. Addison-Wesley P:ublishing Company. Inc.

Hamidah. 2003. Pengaruh Manajemen Mutu Terpadu terhadap Perilaku

Produktif Karyawan Industri Tekstil Berskala Besar di Kota Bandung.

Jurnal Riset Ekonomi dan Manajemen. September 2003. 275-290.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar